1. Home
  2. »
  3. Articles
  4. »
  5. Activity
  6. »
  7. Race Report GTR Ultra 30K: Race Trail Pertamaku yang Berakhir DNF 1,47 Km Sebelum Finish

Race Report GTR Ultra 30K: Race Trail Pertamaku yang Berakhir DNF 1,47 Km Sebelum Finish

GTR Ultra 30K: Race Trail Pertamaku yang Berakhir DNF

Race pertamaku berakhir tanpa medali. Aku berhenti 1,47 km sebelum garis finish GTR Ultra kategori 30K, terlambat 12 menit dari batas waktu. Kecewa? Jelas. Tapi kalau ditanya nyesel atau nggak ikut, jawabanku tetap sama: nggak sama sekali.

Tulisan ini catatan jujurku soal GTR Ultra (Gajah Trail Run) yang digelar Minggu, 27 September 2026, dengan titik start di Lapangan Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Mulai dari persiapan latihan, perjalanan ke Salatiga, suasana race dari malam sampai matahari terbit, data yang aku bedah setelah race, sampai alasan kenapa aku memilih berhenti dengan cara yang benar.

Photo wall GTR Ultra saat pengambilan race pack

Kenapa GTR Ultra 30K Jadi Race Pertamaku

Sebelum daftar, aku sudah beberapa kali naik gunung dan ikut trail run dengan jarak rata-rata 20 sampai 28 kilometer. Salah satunya waktu aku coba night trail run di Cisadon sampai Paniisan, yang jadi salah satu alasan aku makin pede ambil jarak 30K. Kalau kamu penasaran rasanya lari malam di jalur hutan, cerita lengkapnya ada di sana.

Jadi di atas kertas, 30K itu terasa masuk akal. Jaraknya cuma sedikit lebih panjang dari yang biasa aku tempuh. Di sinilah kesalahan pertamaku dimulai, dan aku baru sadar setelah membedah datanya.

Sekilas GTR Ultra 30K

InfoDetail
TanggalMinggu, 27 September 2026
Lokasi startLapangan Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Banyubiru, Kabupaten Semarang
Flag-off03.00 WIB
Cut-off13.00 WIB (10 jam)
Jarak resmi (GPX)31,1 km
Elevasi naik1.791 m
Syarat kualifikasi 30KPernah menyelesaikan half marathon road atau trail 15 km

Rutenya melewati rangkaian perbukitan di sisi utara Gunung Merbabu, jadi jangan bayangkan 30K ini seperti lari 30 km di jalan raya. Dengan elevasi hampir 1.800 m, waktu tempuh jauh lebih menentukan daripada jaraknya.

Persiapan: Data Latihan Sebelum Race

Aku sempat sakit sebelum masa latihan, jadi start lari lagi dari pace yang lumayan berat, sekitar 11 sampai 12 menit per kilometer. Dari situ aku mulai rutin lari sambil menambah strength training dari 19 Juli sampai 4 Agustus.

Hasilnya cukup kelihatan. Sekitar empat minggu kemudian, pace rata-rataku turun ke kisaran 8 menit per kilometer. Di lari 5K terakhir yang aku catat sebelum race, aku finish dalam 42 menit dengan pace rata-rata sekitar 8:29 per kilometer.

Beberapa angka lain yang aku pantau:

  • Cadence naik dari kisaran 123 ke 168 langkah per menit. Alasannya simpel, langkah yang terlalu lebar bikin kakiku cepat pegal. Masih belum konsisten, tapi arahnya membaik.
  • Rasio jalan kaki mengecil, artinya porsi lari makin banyak dibanding jalan. Data ini terhenti sejak 20 Agustus karena aku ganti ke COROS Pace 3.
  • Stride cuma bergerak dari 0,68 ke 0,70 meter. Hampir nggak berubah, dan aku rasa sisa ruang improvement ada di sini.

Untuk bagian stride, aku bikin jadwal strength training jadi dua sesi. Sesi A fokus ke panjang langkah, Sesi B fokus ke perlindungan sendi supaya lutut dan pergelangan kaki tetap aman waktu langkahnya diperpanjang.

Kalau aku lihat lagi rekap 12 minggu sebelum race, volumenya ternyata masih tipis untuk race seberat ini:

Data latihan 12 mingguAngka
Jumlah sesi19 sesi
Total jarak109,8 km
Rata-rata per minggu9,2 km
Total elevasi naik612 m
Sesi terpanjang4 jam 47 menit (sekitar setengah durasi race)
Elevasi terbesar dalam satu sesi516 m
Minggu terakhir sebelum raceTanpa lari dan tanpa gym

Latihan gym-ku juga dominan kaki, tapi belum ada latihan eksentrik, betis, dan core. Ini nanti kelihatan banget efeknya di turunan.

Kinesio tape di kaki sebelum start

Kalau kamu lagi cari sepatu trail untuk race pertama, aku pernah merangkum rekomendasi sepatu trail running berdasarkan pengalaman pakai sendiri, bisa jadi titik awal sebelum kamu beli.

Perjalanan ke Semarang dan Salatiga

Kami berangkat dari Bekasi berempat, ditambah satu bayi kecil yang ikut meramaikan perjalanan. Dari empat orang dewasa, cuma dua yang ikut race. Perjalanannya makan waktu sekitar 5 sampai 6 jam, dan kami beberapa kali mampir di jalan.

Persinggahan pertama di Semarang, di warung Ayam Goreng Pak Supar. Ayam gorengnya tipe basah dengan bumbu yang meresap, dan sop iganya gurih. Setelah itu kami lanjut ke Salatiga dan menginap semalam di rumah keponakan temanku.

Ambil Race Pack di Salatiga

Besoknya kami ke D’Emmerick Hotel Salatiga untuk ambil race pack. Prosesnya diawali cek kesehatan, lalu pengambilan race pack. Buatku semuanya cepat karena urusan administrasi sudah aku beresin online sebelumnya. Kalau kamu ikut race serupa, saranku lengkapi semua berkas online dari jauh hari supaya hari H pengambilan nggak ribet.

Papan Race Pack Collection di lobby hotel
BIB 3042 kategori 30K

Setelah race pack beres, kami makan siang di Warung Kinasih, resto pinggir sawah yang terkenal dengan garang asem bambunya. Malamnya kami pindah ke Rumah Bata Salatiga, tempat kami siap-siap. Dari sana ke venue race cuma sekitar 20 menit, jadi lumayan tenang menjelang start.

Gear lengkap siap berangkat ke start

Race Day: Dari Gelap Sampai Matahari Terbit

Flag-off kategori 30K jam 03.00 WIB, jadi start dimulai dalam gelap total. Area start rame, headlamp di mana-mana, dan begitu masuk jalur, barisan pelari langsung mengular di jalur sempit.

Gerbang start dengan jam race
Antrean pelari di jalur malam dengan headlamp

Ini bagian yang paling aku suka dari seluruh race. Trekking malam pelan-pelan, cuma ditemani cahaya headlamp, lalu langit mulai terang sedikit demi sedikit. Waktu sunrise muncul di atas perbukitan, rasanya semua pegal sempat hilang sebentar.

Replay rute race di Strava
Selfie saat matahari mulai terbit

Yang Aku Suka dari GTR Ultra

  • Landscape-nya cantik. Jalurnya lewat perbukitan, hutan, dan punggungan dengan view yang terbuka.
  • Lewat pemukiman warga. Aku sering ketemu warga lokal di sepanjang jalur, dan momen-momen kecil ini yang bikin race terasa hidup.
  • Water station. Ada buah segar seperti semangka yang rasanya luar biasa setelah berjam-jam bergerak.
Water station dengan semangka
Jalur tanah di antara pepohonan
Jalur punggungan dengan view perbukitan

Yang Perlu Jadi Catatan

Biar adil, ada dua hal yang menurutku perlu diperhatikan kalau kamu mau ikut race ini:

  1. Marka jalur kurang kelihatan di beberapa titik. Aku beberapa kali harus memastikan ulang arah, dan itu makan waktu.
  2. Porsi aspal dan jalan beton cukup banyak. Buat kakiku, permukaan keras seperti ini bikin capek dan sakit lebih cepat dibanding tanah.

Dua hal ini mungkin terasa kecil, tapi di race dengan batas waktu, setiap menit ikut menentukan.

DNF 1,47 Km Sebelum Finish

Ini pelajaran terbesarku, dan ternyata bukan seperti yang aku kira waktu di lapangan.

Saat race, jam tanganku terus menunjukkan angka yang lebih besar dari jarak rute. Waktu itu aku menyimpulkan rutenya lebih panjang 3 sampai 5 km dari kategori. Setelah aku cocokkan dengan GPX resmi, jarak rutenya 31,1 km. Yang meleset justru pembacaan jam tanganku, sekitar 5 sampai 12 persen di jalur trail.

Waktu aku berhenti, jam tanganku menunjukkan 33,19 km. Menurut GPX resmi, aku baru di km 29,62, atau 1,47 km sebelum finish. Waktu race-ku 10 jam 12 menit 27 detik, alias lewat 12 menit 27 detik dari cut-off jam 13.00. Jalur sisanya hampir datar, dan aku butuh sekitar 30 menit lagi untuk finish. Tapi waktuku sudah habis, jadi aku berhenti.

Kenapa Waktuku Habis?

Dari data race, penyebabnya bukan napas dan bukan nyasar:

Yang aku cekHasilnya
Detak jantungRata-rata 146 bpm, 56 persen waktu di zona aerobic endurance. Napas aman
PacingParuh pertama dan kedua hampir sama, 18:33 dan 18:39 per km
Waktu berhentiTotal 8 menit 4 detik, jauh di bawah target maksimal 23 menit
NavigasiProfil elevasiku cocok dengan GPX resmi
TurunanDari sekitar 51 menit waktu yang hilang, sekitar 41 menit terjadi di turunan
Jarak ke cut-offDi checkpoint pertama sudah 4 menit 36 detik di belakang, di WS 4 jadi 29 menit 41 detik

Setelah sekitar 8 jam, otot paha dan betis udah nggak kuat menahan beban saat turun. Dan karena aku membaca progres dari jarak di jam tangan, ketinggalanku dari cut-off terasa lebih kecil dari kenyataannya.

Rebahan di emergency blanket saat istirahat

Rasanya nanggung banget. Udah bayar, udah capek seharian, tinggal sedikit lagi. Menerima itu berat, tapi itu kenyataannya.

DNF Jujur vs Finish dengan Cara yang Salah

Nggak lama setelah race, timeline-ku ramai membahas pelari di sebuah event lain yang tetap menerobos gerbang cut off point (COP) setelah batas waktu lewat, bahkan ada yang tetap mengambil medali. Aku nggak mau menghakimi orangnya, karena aku nggak tahu situasi masing-masing.

Tapi buatku pribadi, finish cuma berarti kalau didapat sesuai aturan. Kalau aku finish dengan cara menerobos, artinya aku tetap belum layak ada di garis itu. Medali itu cuma logam. Catatan yang bersih itu punyaku, dan itu yang mau aku bawa pulang.

Pelajaran Buat Race Berikutnya

Kalau kamu lagi siap-siap race trail pertama, ini hal yang aku pelajari dengan cara yang agak mahal:

  • Pacing pakai waktu checkpoint, bukan jarak di jam tangan. Jam tangan bisa melenceng 5 sampai 12 persen di trail.
  • Cocokkan jam tangan dengan GPX resmi sebelum race. Jadi kamu tahu seberapa besar selisihnya.
  • Latih turunan secara khusus. Downhill terkontrol dan latihan eksentrik seperti step-down, split squat tempo, dan calf raise.
  • Naikkan volume secara bertahap. Long run trail dibangun pelan-pelan sampai mendekati durasi race.
  • Anggap cut-off sebagai titik keputusan. Bikin target waktu per segmen, jangan cuma target finish.
  • Latih kaki di permukaan keras juga. Jalur trail belum tentu semuanya tanah.

Aku juga pernah menulis pengalaman mendaki Gunung Slamet via Bambangan, yang jadi salah satu bekal daya tahanku sebelum GTR. Kalau kamu lagi membangun stamina lewat hiking, cerita itu bisa kasih gambaran.

Penutup

GTR Ultra jadi race pertama yang ngajarin aku lebih banyak daripada medali mana pun. Aku pulang tanpa finish, tapi dengan data yang jujur soal kelemahanku, cara baru membaca jarak dan cut-off, dan catatan yang bersih. DNF ini bukan akhir, cuma titik awal buat race berikutnya.

Kamu pernah DNF juga? Atau lagi siap-siap race pertama?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *