Click on the Edit Content button to edit/add the content.
  1. Home
  2. »
  3. Articles
  4. »
  5. Tips
  6. »
  7. Stasiun Bandung Pintu Selatan atau Utara? Simak Perbedaannya Disini!

Memahami Emosi tuh nggak semudah yang dibayangkan.

Feature Images (14)

Aku adalah seseorang yang sulit memahami emosi manusia pada awalnya. Then aku mencoba berbagai macam hal mulai dari.

Baca buku

Sharing podcast dengan pacarku

Ngulik tulisan dari berbagai neuroscientist yang ada di dunia.

Semakin aku belajar dan semakin aku deep dive ke bagian cara memahami manusia, aku melihat bahwa emosi ini sifatnya dinamic. 

Aku bilang begini karena setiap orang pasti punya perspektif yang berbeda beda soal yang mereka rasakan, dan kenapa mereka merasakannya.

Memahami Emosi yang Dinamis

Di buku nya Lisa Fieldman Barret, ada salah satu argumen yang menurutku menarik. Mbak Lisa bilang bahwa emosi ini nggak punya “Sidik Jari” yang universal.

Nah loo kenapa sidik jari?

Istilah sidik jari ini sering banget dipakai di bukunya mbak Lisa. Analoginya gini, sidik jari itu unik, konsisten, dan bisa dipakai buat identifikasi seseorang secara pasti. Setiap kali kamu cek sidik jari orang yang sama, hasilnya selalu identik.

Okay, sekarang mari kita merelevansikannya dengan emosi.

Contoh, kalau kamu marah hari ini dan marah lagi minggu depan, seharusnya ada  “sidik jari” yang sama mulai dari konfigurasi wajah yang sama, lonjakan kortisol yang sama, dan raut muka yang sama.

Tapi, riset yang ditulis dibuku mbak Lisa bilang bahwa marah kamu hari ini bisa keliatan beda total dengan marah kamu di minggu depan. Bisa jadi kamu teriak, kadang diam dengan ekspresi dingin, dan lain sebagainya.

Nggak ada satu pola yang persis sama jika kita bicara emosi.

Karena kenapa?

Buku ini menjelaskan bahwa tiap otak itu membangun emosinya sendiri. Dan emosi ini terbentuk berdasarkan konsep yaaang dia pelajari sepanjang hidupnya.

Seperti,

  • Kata – kata yang dia dengar sejak kecil
  • Budaya tempat dia tumbuh
  • Pengalaman spesifik yang membentuk berbagai macam emosi seperti “sedih” atau “kecewa” buat dia.

Dengan konsep ini, dua orang bisa punya sensasi fisik misal kayak jantung berdetak atau dada sesak, tapi makna yang dirasakan ke dua orang ini bisa sangat berbeda satu sama lain. Ini tergantung konsep apa yang otaknya pakai untuk mengkategorikan sensasi itu.

Inilah kenapa satu kejadian yang sama bisa bikin satu orang merasa terlukan dan orang lain merasa biasa aja. Bukan karna yang satunya baper atau sebaliknya, tapi karena mereka literally membangun emosi itu dari bahan konsep yang berbeda.

Mempertanyakan Konsep Baper

Nggak asing dong dengan kata yang aku jadikan heading? Hehehe

Kita sering pakai kata itu buat nge-judge reaksi orang lain. Seseorang cerita sesuatu, then ngerasa sedih atau tersinggung, dan respon yang keluar.

“Ah gitu aja baper!”

Kata ini membuat seolah – olah ada takaran yang jelas tentang seberapa besar seseorang tuh boleh merasa sesuatu, dan siapapun yang melewati batas itu dianggap berlebihan, lemah, atau salah merespons.

Padahal nggak ada yang namanya reaksi “normal” yang berlaku buat semua orang. Yang ada cuma reaksiku, dan reaksi dia. Semuanya sama-sama balid, sama-sama benar. Hanya aja dibangun dari bahan yang berbeda.

Belajar Mendengarkan dan Memahami

Kalau setiap orang membangun emosi dari konsep yang berbeda, maka konsekuensinya jelas, aku nggak akan pernah bisa benar-benar tau apa yang dirasakan seseorang hanya dengan menebak dari luar.

Jelas aku nggak bisa pakai kamus emosiku sendiri untuk membaca pengalaman orang lain. Yang bisa aku lakukan adalah belajar mendengar dan memahami.

Kedengarannya sederhana nggak sih?

Seringkali ketika seseorang cerita sesuatu, reaksi pertamaku langsung menerjemahkannya dengan kerangka experience yang aku miliki, aku cari solusi dan aku kategorikan situasina secepat mungkin. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah aku lagi nggak mendengarkan, dan aku cuma lagi mengonfirmasi apa yang sudah aku percaya. Bisa jadi konsep yang dia pakai buat menyebut “kecewa” dibangun dari pengalaman yang sama sekali berbeda dengan konsep “kecewa” versiku.

Aku memahami bahwa langkah yang aku lakukan salah sasaran dan aku sadar, memahami orang lain itu bukan skill yang instant. Tapi skill yang harus dilatih setiap waktu saat aku berinteraksi dengan seseorang.

Kesimpulannya

Aku masih jadi Harist yang sama yang dulu nulis di awal tulisan ini. Aku yang sulit memahami emosi manusia. Bedanya setelah aku belajar, aku semakin mengerti kenapa itu sulit dan rumit.

Saat ini aku memahami bahwa emosi yang kita rasakan itu bisa dipelajari sesimpel dengan cara mendengarkan orang lain dan mengulangnya secara terus menerus.

Karena kenapa?

Setiap orang pasti berubah, begitu juga cara mereka merasa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Index