Click on the Edit Content button to edit/add the content.
  1. Home
  2. »
  3. Articles
  4. »
  5. Culinary
  6. »
  7. Review Warung Roekoen Jakarta Pusat: Cafe Estetik Serba 20 Ribu yang Bikin Betah (Tapi Bukan…

Pengalaman Trekking Di Cisadon Sentul: Jalur Ramah Pemula vs Tempat Latihan Trail Run

7

Kalau kamu mencari tempat gerak yang lokasinya tidak jauh dari Jakarta, punya nuansa pegunungan yang asri, tapi lintasannya masih ramah buat kaki yang jarang diajak lari, Cisadon di Sentul bisa jadi jawabannya.

Weekend kemarin, aku memutuskan untuk menjajal trek ini. Tapi, ada satu hal yang bikin perjalanan ini agak beda karena aku pergi bareng temanku, Dian Eka Safitri. Buat konteks saja, Dian ini adalah seorang trail runner.

Jadi bisa dibayangkan perbedaannya? Dian ke Cisadon dengan tujuan latihan ketahanan fisik, sementara aku ke sini dengan tujuan cari angin segar sambil cari jajanan di puncak.

Artikel ini bukan panduan atlet pro, melainkan jurnal jujur dari sudut pandang aku sebagai seorang pejalan santai yang napasnya kadang tersengal, tapi tetap ingin menikmati alam tanpa harus tersiksa.

Realita Jalur: Ekspektasi Pelari vs Realita Pejalan Santai

Cisadon memang terkenal di kalangan komunitas lari lintas alam sebagai tempat latihan. Kontur tanahnya bervariasi, ada tanjakan, turunan, dan jalur datar yang panjang.

Bagi Dian, jalur Cisadon ini adalah surga. Dia bilang trek ini sangat cocok untuk melatih ketahanan karena elevasinya yang pas. Tidak terlalu curam mematikan, tapi cukup panjang untuk bikin kaki panas. Dia bisa lari kecil di tanjakan yang buat aku, jalan kaki saja sudah bikin betis terasa kencang.

Tapi kabar baiknya buat kamu yang setipe sama aku adalah jalur ini sangat ramah pemula. Jalanannya cenderung lebar dan tidak ada lintasan teknis yang mengharuskan kamu memanjat pakai tangan kayak mau sampai ke puncak gunung tinggi.

6

Di sini momen kebersamaannya terasa. Karena perbedaan kecepatan jalan yang lumayan jauh, Dian sering banget harus pelan-pelan atau berhenti sebentar buat nungguin aku yang lagi ambil napas. Dia cenderung mengalah untuk menyesuaikan ritme jalanku yang santai. Ini bukti valid kalau jalur ini aman. Kalau teman pro saja bisa santai menemani pemula di sini, berarti jalurnya tidak mengintimidasi.

Kalau kamu pernah baca pengalamanku mendaki gunung yang lebih serius di artikel Part 1: Bekasi ke Jambi, Cerita Perjalanan dan Persiapan Mendaki Gunung Kerinci, Cisadon ini adalah versi jalan-jalan santainya. Jauh lebih ringan, tapi tetap dapat keringatnya.

Drama Hujan dan Jalanan Becek (Siap-Siap Kotor!)

Salah satu hal yang tidak bisa kita kontrol saat trekking adalah cuaca. Waktu aku ke sana, langit Sentul memutuskan untuk menumpahkan airnya. Hujan turun sangat deras.

Kondisi gunungnya memang cakep banget, hijau dan berkabut. Saking asiknya menikmati suasana, aku sampai lupa untuk mendokumentasikan banyak hal. Tapi, ada harga yang harus dibayar yaitu jalur tanah merah di Cisadon berubah jadi arena lumpur saat hujan.

Di sinilah perbedaan perspektif itu muncul lagi. Buat trail runner kayak Dian, tanah becek mungkin tantangan seru buat melatih keseimbangan dan kekuatan engkel. Tapi buat aku, ini berarti harus ekstra hati-hati biar tidak terpeleset.

4

Biasanya aku adalah tipe orang yang cukup ribet soal perlengkapan, seperti yang pernah aku tulis di artikel Gadget yang Selalu Aku Bawa. Tapi jujur saja, melihat kondisi medan becek dan hujan begini, aku memutuskan untuk tidak membawa banyak barang. Kali ini aku cuma bawa HP untuk komunikasi dan jam tangan Garmin untuk memantau performa biar tetap bisa pamer data kalori di Strava. Sisanya aku tinggal agar lebih ringkes.

Jalannya tidak banjir, cuma becek dan licin. Jadi saran utamaku adalah siapkan mental buat kotor. Jangan pakai sepatu putih kesayangan kamu ke sini. Kalau bisa, pakai sepatu trekking yang punya cengkraman bagus atau sandal gunung yang mumpuni.

Karena hujan deras ini juga, aku jadi sadar pentingnya proteksi barang bawaan. Untungnya aku selalu persiapan soal keamanan gadget. Kamu bisa baca tips lengkapku soal ini di artikel Case dan Tips Proteksi Gadget yang Selalu Aku Bawa Saat Traveling, karena saat trekking basah-basahan begini, tas anti air itu hukumnya wajib.

Logistik: Dari Semangka Segar sampai Warteg Prasmanan

Ini bagian favoritku. Biasanya kalau naik gunung atau trekking ke hutan, kita harus bawa logistik sendiri atau masak mi instan. Tapi Cisadon beda. Ini adalah definisi naik gunung fasilitas bintang lima soal urusan perut.

Di sepanjang jalur trekking, tersedia banyak warung. Dan warungnya bukan cuma jual air mineral doang. Mereka jual gorengan hangat, lontong, dan yang paling juara adalah buah semangka potong segar. Bayangkan, habis capek nanjak, makan semangka dingin di tengah hutan berkabut. Itu nikmat banget.

Bahkan kalau kamu kelupaan bawa jas hujan saat hujan turun kayak aku kemarin, tenang saja. Warung-warung di sini super lengkap. Mereka jual jas hujan plastik, sandal jepit, sampai perlengkapan darurat lainnya. Sangat praktis dan fungsional.

Puncaknya adalah saat sampai di area pemukiman atas. Di sana ada warung makan dengan konsep prasmanan ala warteg. Iya, kamu bisa ambil nasi, sayur, lauk pauk sepuasnya kayak lagi makan siang di kantin kantor, tapi pemandangannya bukit hijau. Jadi buat kamu yang takut kelaparan atau malas bawa bekal berat, Cisadon sangat memanjakanmu.

5

Ojek Penyelamat: Opsi Kalau “Baterai” Sudah Habis

Setelah kenyang makan dan istirahat, tantangan selanjutnya adalah perjalanan pulang.

Jujur, tenagaku sebenarnya sudah lumayan terkuras saat naik tadi. Kalau Dian mungkin masih sanggup lari turun, kakiku rasanya sudah mulai memberikan sinyal pegal.

Tapi meskipun lelah, aku pribadi memutuskan untuk tetap turun dengan jalan kaki. Hitung-hitung melatih mental dan menghabiskan sisa tenaga. Lagipula sayang kalau pengalaman turunnya dilewatkan begitu saja.

Nah, tapi buat kamu yang mungkin kakinya sudah benar-benar mogok atau lutut mulai protes, di sinilah letak kepraktisan wisata Cisadon. Di area puncak, tersedia pangkalan ojek. Bukan cuma ojek motor, kadang ada juga mobil yang bisa disewa kalau rombonganmu banyak.

Ini adalah fitur penyelamat yang sangat fungsional. Berdasarkan info yang aku dapat dari tanya warga sekitar, tarif ojek untuk turun ke bawah itu sepertinya mulai dari Rp 70 ribuan.

Sedikit catatan ya, harga ini adalah harga perkiraan atau estimasi saat aku ke sana. Karena aku akhirnya turun pakai kaki sendiri dan tidak transaksi langsung naik ojeknya, harganya bisa saja berubah tergantung negosiasi, jarak, atau kondisi cuaca saat kamu datang.

Tapi setidaknya, opsi ini ada. Jadi kamu bisa olahraga maksimal saat naik, dan punya rencana cadangan kalau baterai tubuh kamu sudah habis saat mau turun.

Kesimpulan

Jadi, apakah Trekking Jalur Cisadon Sentul ini layak dicoba?

Sangat. Tempat ini inklusif banget. Buat yang mau latihan fisik serius kayak Dian, treknya mumpuni buat melatih ketahanan. Tapi buat yang mau sekadar cari keringat, cuci mata, dan wisata kuliner di atas bukit kayak aku, tempat ini juga sangat menyenangkan.

3

Kalau kamu berencana ke sini, pastikan bawa uang tunai buat jajan di warung dan bayar ojek, baju ganti, dan tentu saja fisik yang cukup prima. Meskipun jalurnya santai, tetap saja namanya naik gunung, butuh tenaga.

Selamat mencoba trekking santai rasa latihan atlet ini!

Bonus Foto

1. Feature Images

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Index