Click on the Edit Content button to edit/add the content.
  1. Home
  2. »
  3. Articles
  4. »
  5. Culinary
  6. »
  7. Review Warung Roekoen Jakarta Pusat: Cafe Estetik Serba 20 Ribu yang Bikin Betah (Tapi Bukan…

Night Trail Run ke Puncak Paniisan: Sensasi Lari di Tengah Hutan dan Es Cincau Tengah Malam

Feature Images

Aku bukan tipe orang yang suka berdiam diri di rumah saat akhir pekan tiba. Bagiku, adrenalin adalah cara terbaik untuk melepas penat setelah seminggu penuh bekerja. Kali ini, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sedikit berbeda dan mungkin terdengar agak ekstrem bagi sebagian orang yaitu melakukan trail run di malam hari. Tujuannya adalah Puncak Paniisan, sebuah rute yang sebenarnya sudah cukup familiar di telinga para pecinta trekking Sentul, tapi sensasinya akan berubah seratus delapan puluh derajat saat matahari sudah tidak lagi menampakkan dirinya.

Aku tidak sendirian dalam perjalanan ini. Aku ditemani oleh Dian Eka Safitri, partner lari yang sudah cukup berpengalaman melahap jalur perbukitan. Kami memulai perjalanan ini di sore hari. Sekitar jam 4 sore, kami sudah sampai di area parkiran Prabowo, yang merupakan titik awal populer untuk trekking menuju Cisadon. Suasana sore itu masih cukup hangat, tapi awan mendung di kejauhan seolah memberikan peringatan bahwa perjalanan kami tidak akan sesantai biasanya.

Let’s gooowww.

1. Harist & Dian

Tikungan Pertama dan Transisi Menuju Magrib

2. Tikungan Pertama dan Transisi Menuju Magrib

Baru saja memulai dari parkiran Prabowo, realita langsung menghantamku. Kalau buat Dian perjalanan awal mungkin terasa seperti pemanasan biasa, bagiku jelas tidak. Baru sebentar saja napas sudah terasa engap dan paru-paru rasanya dipaksa bekerja ekstra keras. Melihat kondisiku yang mulai kepayahan mengatur ritme, Dian mulai memberikan saran.

Dia menyarankanku untuk mengonsumsi sirup atau sesuatu yang manis-manis untuk menjaga energi dan menstabilkan kondisi tubuh. Ternyata, asupan gula memang sepenting itu saat tubuh dipaksa lari di elevasi yang lumayan.

Ini dokumentasi kami setelah melalui tikungan menuju arah panisan.

4. Tikungan Pertama dan Transisi Menuju Magrib Part

Sekitar 3 kilometer perjalanan dengan napas yang masih naik turun, kami akhirnya sampai di sebuah titik krusial. Ini adalah tikungan yang memisahkan jalur menuju Palasari dan rute menuju Cisadon atau Paniisan. Patokannya adalah sebuah warung yang letaknya tepat di persimpangan. Aku jujur agak lupa nama warungnya, tapi posisinya sangat ikonik karena menjadi tempat peristirahatan terakhir sebelum jalur benar-benar masuk ke area yang lebih teknis.

Waktu menunjukkan hampir jam 6 sore saat kami melewati tikungan tersebut. Langit yang tadinya oranye mulai berubah menjadi biru gelap yang pekat.

3. Tikungan Pertama dan Transisi Menuju Magrib Part

Kegelapan yang Menelan Jalur

5. Kegelapan yang Menelan Jalur

Eksis dulu sebelum lanjut jalan hehehehe…

Hanya butuh waktu sekitar 15 sampai 30 menit setelah magrib hingga suasana benar benar menjadi gelap gulita. Di sinilah kesalahan kecilku terasa sangat nyata. Aku melakukan sebuah kecerobohan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan saat lari malam yaitu aku tidak membawa headlamp. Untungnya, aku masih membawa senter tangan meskipun jangkauan cahayanya terbatas.

Dian yang berada di depanku menjadi “pemandu cahaya” utama. Dia menerangi jalan dengan headlamp miliknya sehingga aku bisa melihat ke mana kaki ini harus melangkah.

6. Kegelapan yang Menelan Jalur Part

Jujur saja, suasana malam di tengah hutan itu memberikan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada suara kendaraan atau bising kota. Yang tersisa hanyalah suara hewan nokturnal yang saling bersahutan dan sesekali terdengar gemercik air dari kejauhan. Mendengar hal-hal seperti itu di tengah hutan benar-benar menyegarkan otakku. Tapi, jangan sampai rasa tenang itu membuat kamu lengah.

Jalur yang kami lewati ini sangat teknis. Sisi kanan kami adalah jurang yang cukup dalam, dan jalurnya sendiri sering digunakan oleh motor trail, sehingga ada ceruk-ceruk dalam (jalur motor X) yang bisa membuat pergelangan kaki terkilir kalau tidak hati-hati.

7. Kegelapan yang Menelan Jalur Part

Kejutan di Warung Puncak

8. Kejutan di Warung Puncak

Setelah sekitar satu jam perjalanan menembus kegelapan, kami akhirnya melihat titik terang di kejauhan. Itu adalah sebuah warung. Kami memutuskan untuk mampir sejenak. Mungkin kamu berpikir di puncak gunung atau bukit seperti ini hanya ada air mineral atau kopi instan, tapi kamu salah. Di sini, kamu bisa menikmati es cincau yang sangat segar.

Dian bilang bahwa setiap puncak di area Sentul itu punya ciri khasnya masing-masing. Ada yang terkenal dengan es markisanya, dan di jalur menuju Paniisan ini, es cincau adalah primadonanya.

9. Kejutan di Warung Puncak Part

Kami beristirahat cukup lama di sini. Selain makan Indomie untuk mengisi energi, kami juga menyempatkan diri untuk beribadah. Satu hal yang membuat aku sangat kagum adalah fasilitas musholla di sini sangat proper. Meskipun berada di tengah jalur trekking yang cukup jauh dari peradaban bawah, tempat ibadahnya bersih dan airnya sangat melimpah. Kamu tidak perlu risau kekurangan air kalau mau wudhu atau sekadar cuci muka agar kembali segar.

10. Kejutan di Warung Puncak Part

Menikmati Puncak Paniisan dan City Light Bogor

13. Menikmati Puncak Paniisan dan City Light Bogor Part

Perjalanan kami lanjutkan menuju titik tertinggi. Sebenarnya, aku baru sadar kalau untuk sampai ke Paniisan, kita harus melewati beberapa puncak kecil lainnya. Aku tadinya mengira Paniisan itu cuma satu puncak tunggal yang berdiri sendiri, tapi ternyata jalurnya lebih berbukit-bukit dari yang kubayangkan. Saat akhirnya kami sampai di titik yang memberikan pandangan terbuka, aku terdiam sejenak.

11. Menikmati Puncak Paniisan dan City Light Bogor

Pemandangan kota Bogor dari atas sini sangat cakep. Lampu-lampu kota yang berkelap-kelip dari kejauhan memberikan kontras yang indah dengan kegelapan hutan di sekitar kami. Meskipun di bawah sana Bogor mungkin sedang macet dan menyebalkan, dari atas sini semuanya terlihat sangat damai. Rasanya semua rasa lelah saat menanjak tadi terbayar lunas.

12. Menikmati Puncak Paniisan dan City Light Bogor Part

Perjalanan Turun yang Menantang Mental

15. Perjalanan Turun yang Menantang Mental Part

Setelah puas menikmati suasana puncak, kami harus memutuskan rute pulang. Karena kondisi gear milikku tidak memungkinkan untuk balik lagi lewat jalur Cisadon mengingat aku hanya pakai senter kecil dan tidak bawa trekking pole, kami memutuskan mengambil jalur lain. Jalur yang kami pilih adalah jalur menurun menuju Sentul Nirwana. Jalur ini cenderung lebih mudah secara teknis dibandingkan jalur awal, karna treknya downhill gitu. Tapi tantangannya ada pada mental.

14. Perjalanan Turun yang Menantang Mental

Makin malam, suasana hutan menurut Dian jadi terasa sedikit “mencekam”. Dian memang pecinta konten horor, jadi imajinasinya sering liar kalau berada di tempat gelap seperti ini. Dia berkali kali bilang kalau suasananya jadi agak ngeri. Tapi anehnya, aku merasakan sebaliknya. Bagiku, perjalanan turun ini sangat menenangkan. Aku sangat menikmati suara gemercik air yang kami lewati sepanjang perjalanan. Airnya terlihat sangat bening dan segar, seolah mengajak kami untuk mampir sejenak.

16. Perjalanan Turun yang Menantang Mental Part

Kami akhirnya sampai di bawah dengan selamat. Pengalaman trail run malam ini memberikan perspektif baru buatku tentang bagaimana menikmati alam. Kamu tidak melulu harus lari di bawah sinar matahari untuk mendapatkan pemandangan yang bagus.

Tips Buat Kamu yang Mau Coba

Kalau kamu tertarik untuk melakukan trail run malam hari dari Cisadon menuju Paniisan, aku punya beberapa saran penting. Pertama, jangan pernah pergi sendirian. Aku sangat menyarankan kamu membawa partner yang sudah sangat berpengalaman dengan jalur tersebut. Di perjalanan ini, aku sangat terbantu karena Dian sudah tahu seluk-beluk jalurnya.

Tips Buat Kamu yang Mau Coba

Kedua, pastikan gear kamu lengkap. Jangan tiru aku yang cuma bawa senter tangan. Headlamp adalah harga mati agar tangan kamu bisa bebas bergerak untuk menjaga keseimbangan. Dan kalau bisa, bawalah trekking pole, terutama kalau kamu berencana lewat jalur yang banyak tanjakan dan turunan licin. Terakhir, nikmati setiap prosesnya. Jangan terburu-buru, karena lari malam di hutan bukan soal seberapa cepat kamu sampai, tapi soal seberapa kuat kamu bisa menyatu dengan alam dalam kegelapan.

Jadi, kapan kamu mau coba lari malam di Paniisan?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Index