Pernah nggak kamu merasa penasaran banget sama sebuah buku sampai rela meluangkan waktu di hari libur buat datang ke acara peluncurannya? Jujur saja, selama ini aku lebih sering menghabiskan waktu di kafe buat kerja remote atau sekadar eksplorasi gadget terbaru. Tapi kali ini beda. Tanggal 15 Februari 2026 kemarin, aku memutuskan buat melangkah keluar dari zona nyaman dan menghadiri acara Malaka Books yang bertajuk peluncuran buku Principil Economy karya Ferry Irwandi.
Ini adalah pengalaman pertamaku menghadiri sebuah book launch. Awalnya aku mengira acaranya bakal kaku dan membosankan seperti seminar di kampus. Ternyata aku salah besar. Atmosfernya sangat hidup, seru, dan yang paling penting adalah ngena banget di hati, meskipun ada beberapa catatan yang sempat membuatku sedikit kerepotan di event ini.
Daftar Isi
ToggleLokasi Strategis di Tengah Kota: Citywalk Sudirman
Acara ini diadakan di Function Hall Lantai 5, Citywalk Sudirman. Buat kamu yang sering wara-wiri di Jakarta Pusat, pasti tahu kalau lokasi ini sangat strategis. Aksesnya mudah dijangkau, baik menggunakan transportasi umum seperti MRT (stasiun Setiabudi Astra) dan Transjakarta, maupun kendaraan pribadi. Begitu sampai di lokasi, aku merasa pilihan tempatnya sangat pas karena berada di pusat kegiatan ekonomi Jakarta, selaras dengan tema buku yang diluncurkan.
Citywalk Sudirman sendiri punya vibe yang unik, semacam mall yang kental dengan nuansa gaya hidup kaum urban dan kuliner Jepang. Area mall-nya tidak terlalu luas yang bikin bingung, tapi fasilitasnya sangat lengkap. Sebelum naik ke Lantai 5, aku sempat melihat-lihat berbagai pilihan makanan yang tersedia di lantai dasar, cocok banget buat tempat nongkrong atau sekadar “ngadem” sebelum acara dimulai. Function Hall-nya sendiri berada di lantai paling atas, memberikan kesan yang lebih privat dan tenang dibandingkan area mall di bawahnya, meskipun saat itu suasananya sangat ramai oleh para pencinta literasi.
Tantangan Sinyal dan Drama Antrean Merchandise
Namun, ada satu hal yang cukup mengganggu selama aku berada di Function Hall tersebut, yaitu kualitas sinyal seluler yang ternyata sangat buruk. Sepertinya posisi hall di lantai atas dengan konstruksi bangunan tertentu membuat sinyal masuk sangat terbatas. Masalah sinyal ini ternyata berdampak domino ke banyak hal, terutama saat proses transaksi di booth merchandise Malaka.
Karena hampir semua orang menggunakan sistem pembayaran non-tunai seperti QRIS atau transfer, sinyal yang jelek membuat proses transaksi jadi macet total. Bayangkan, ratusan orang ingin membeli buku dan tumblr secara bersamaan tapi koneksinya terhambat. Alhasil, antrean panjang yang melelahkan pun tidak bisa dihindari. Di saat-saat seperti ini, aku baru sadar betapa krusialnya memiliki koneksi cadangan yang handal. Kalau kamu sering bepergian ke tempat yang minim sinyal atau “blind spot” seperti ini, membawa modem wifi prolink bisa jadi penyelamat supaya komunikasi dan transaksi tetap lancar tanpa bergantung pada WiFi publik yang sering lemot.
Perjuangan Mendapat Kursi di Barisan Belakang
Dampak lain dari drama antrean merchandise tadi adalah aku kehilangan momen untuk masuk ke hall lebih awal. Begitu urusan belanja selesai dan aku masuk ke ruangan acara, kursi di barisan depan dan tengah sudah penuh terisi. Aku akhirnya hanya mendapatkan tempat duduk di sisi paling belakang.

Jujur saja, duduk di belakang itu agak kurang enak karena pandangan ke panggung sering terhalang oleh orang-orang yang lebih tinggi atau mereka yang berdiri untuk mengambil foto. Tapi ya, aku memaklumi karena ini adalah event dengan tiket yang tergolong murah dan terjangkau bagi banyak kalangan. Setidaknya, dengan skala acara sesederhana ini, antusiasme pengunjung tetap luar biasa tinggi. Ruangan hall benar-benar penuh sesak oleh orang-orang yang haus akan literasi dan diskusi berkualitas.
Kehadiran Bintang Tamu yang Tak Terduga
Begitu acara dimulai, rasa lelah mengantre langsung terbayar. Acaranya dipandu oleh Cania Citta dan Abigail Limuria yang berhasil membawakan diskusi dengan sangat cair dan santai. Yang membuatku kaget adalah deretan tamu undangan yang hadir. Di barisan depan, aku melihat sosok Pak Anies Baswedan dan Tom Lembong yang ikut menyimak bedah buku ini.

Rasanya agak sureal bisa berada di satu ruangan dengan tokoh-tokoh besar tersebut dalam sebuah acara peluncuran buku yang nuansanya cukup intim. Ferry Irwandi sebagai penulis juga memberikan delivery yang sangat baik. Dia bisa menjelaskan konsep-konsep ekonomi yang berat menjadi sesuatu yang logis dan bisa diterima oleh akal sehat orang awam. Ini benar-benar jenis event yang ngena secara substansi tanpa perlu panggung yang terlalu megah.
Belanja Literasi: Buku Principil Economy dan Tumblr Malaka
Meskipun harus melewati drama antrean panjang karena masalah sinyal tadi, aku merasa puas bisa membawa pulang buku Principil Economy dan sebuah tumblr eksklusif dari Malaka. Buku ini sendiri punya fisik yang cukup elegan untuk dikoleksi. Sebagai seorang tech-enthusiast, aku sangat mengapresiasi bagaimana Malaka Books mengemas produk literasi menjadi sesuatu yang estetik dan punya nilai kebanggaan saat dibawa-bawa.

Tumblr-nya pun terasa kokoh dan fungsional. Aku sangat menyukai materialnya yang terasa premium saat disentuh. Sebagai pelengkap dari buku utama, tumblr ini punya build quality yang mantap dan desain yang sangat minimalis. Ukurannya pun pas untuk menemani aktivitas harian, baik saat sedang santai membaca maupun saat harus berpindah-pindah lokasi di dalam mall tanpa terasa berat saat digenggam.
Kesimpulan: Literasi yang Menghidupkan
Secara keseluruhan, pengalaman pertamaku datang ke book launch ini memberikan banyak insight berharga. Aku belajar bahwa antusiasme orang Indonesia terhadap literasi sebenarnya sangat besar, asal dikemas dengan persona yang kuat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ferry Irwandi melalui Malaka Books berhasil membuktikan hal itu.
Meskipun ada kendala teknis seperti masalah sinyal yang membuat antrean jadi berantakan dan posisi duduk yang terhalang di belakang, aku tidak menyesal datang ke Citywalk Sudirman. Acara ini mengajarkanku banyak hal tentang “Why” di balik sebuah keputusan ekonomi dan hidup. Ternyata, mengikuti acara seperti ini bisa jadi bentuk “laycation” yang berkualitas, di mana kita mengistirahatkan pikiran dari konten singkat media sosial dan beralih ke diskusi yang lebih mendalam.
Semoga ke depannya, penyelenggara bisa lebih memperhatikan infrastruktur sinyal atau menyediakan opsi pembayaran offline cadangan untuk menghindari antrean panjang. Sampai jumpa di cerita pengalaman seru lainnya di Laycation. Kalau kamu punya pengalaman serupa saat datang ke event literasi, bagikan ceritanya di kolom komentar ya!




