Click on the Edit Content button to edit/add the content.
  1. Home
  2. »
  3. Articles
  4. »
  5. Culinary
  6. »
  7. Review Warung Roekoen Jakarta Pusat: Cafe Estetik Serba 20 Ribu yang Bikin Betah (Tapi Bukan…

Revou Community – Chapter Jaksel – Pengalaman Ikut Painting & Clay Workshop “The Art of Networking”

2

Gimana rasanya ikut workshop seni sambil kenalan sama orang baru? Di acara “The Art of Networking” yang diadakan di Titik Temu Brew Bar, Tebet, aku berkesempatan ngerasain dua pengalaman sekaligus: bikin karya seni dan bangun koneksi. Artikel ini bakal nemenin kamu ngikutin step-by-step keseruannya, mulai dari kuas pertama sampai hasil clay terakhir, plus gimana aktivitas ini bisa bantu kamu ngobrol tanpa rasa canggung.

Awalnya Ragu, Ternyata Begini Keseruannya

Waktu pertama kali lihat poster workshop ini lewat Instagram, aku sempat mikir, “Kayaknya seru, tapi… aku bisa nggak ya?” Aku bukan orang yang jago gambar, apalagi bikin kerajinan dari tanah liat. Tapi karena aku pengin cari suasana baru dan mungkin nambah temen, akhirnya aku putuskan buat daftar.

Workshop-nya diadakan di Titik Temu Sarinah—tempat yang cozy banget buat nongkrong sambil berkarya. Begitu masuk, aku disambut sama panitia yang ramah dan peserta lain yang juga tampak antusias (meski banyak juga yang keliatan deg-degan). Suasana awal cukup cair, nggak terlalu formal, dan meja-meja udah ditata dengan peralatan melukis dan clay yang menarik perhatian.

Sekilas Pict kitah:

3

Step-by-Step Experience: Dari Kanvas Kosong Hingga Karya Jadi

Sesi Briefing dan Perkenalan yang Cair. Acara dibuka dengan sesi perkenalan singkat dari host dan instruktur. Mereka menjelaskan rundown kegiatan, tujuan workshop, dan… kabar baik: nggak perlu punya skill khusus buat ikut! Bahkan ada sesi ice breaking yang bikin semua peserta ketawa-tawa dan mulai saling kenal.

Act 1: The Painting Session

Memilih Palet Warna dan Menghadapi Kanvas, Begitu sesi melukis dimulai, aku dan peserta lain langsung disuguhi berbagai pilihan warna cat akrilik—ada yang kalem seperti pastel, ada juga yang terang seperti neon. Setiap orang bebas pilih sesuai selera dan mood hari itu. Beberapa peserta langsung semangat nyoba warna-warna bold, sementara yang lain (termasuk aku) sempat bengong sambil mikir, “Mulainya dari mana ya?”

Untungnya, instruktur datang mendampingi satu per satu dengan senyum yang menenangkan. Mereka ngajak ngobrol, bantu kasih ide awal, dan yang paling penting: bikin kita merasa nyaman buat berekspresi. Nggak ada komentar negatif, nggak ada standar “bagus nggaknya”. Pokoknya, semua hasil adalah bentuk ekspresi diri. Bahkan instruktur sering bilang, “Nggak ada salah di seni, yang penting kamu enjoy prosesnya.”

Proses Melukis yang Meditatif dan Penuh Canda Tawa, Aku mulai dengan goresan abstrak yang nggak terlalu kupikirkan—sekadar main warna dan gerakan kuas di atas kanvas. Tapi dari situlah justru muncul rasa plong. Setiap goresan terasa seperti pelampiasan pikiran dan perasaan yang nggak bisa selalu diungkap dengan kata-kata. Rasanya seperti meditasi, tapi lebih menyenangkan karena ditemani tawa dan obrolan ringan dari peserta lain di meja.

Kami ngobrol soal warna favorit, lukisan siapa yang paling nyentrik, sampai curhat receh soal kerjaan. Ada yang saling tukar cat, kasih saran warna latar, bahkan bantuin pegangin kanvas biar temannya bisa cat bagian pinggir. Suasananya hangat, penuh tawa, dan semua orang tampak menikmati proses masing-masing. Tanpa disadari, satu jam berlalu begitu saja, dan sebagian besar dari kami masih asyik menambahkan detail kecil di sudut-sudut kanvas kami.

Act 2: The Clay Session

Mengenal Tekstur Tanah Liat dan Teknik Dasar, Setelah break sebentar buat ngopi dan ngemil, kami lanjut ke sesi clay—bagian yang dari awal bikin aku paling penasaran. Di depan setiap peserta udah tersedia sebongkah tanah liat, beberapa alat pemotong, rolling pin kecil, dan spons basah. Awalnya aku sempat bingung harus mulai dari mana, karena bentuk-bentuk dari tanah liat itu kayaknya susah banget dibentuk tanpa skill khusus.

Tapi ternyata, instruktur dengan sabar ngajarin teknik dasar satu per satu. Mulai dari teknik pinch pot (membentuk cekungan dengan cubitan jari), coil (menggulung tanah liat jadi tali panjang lalu disusun bertumpuk), sampai slab (menggilas dan memotong clay jadi bentuk tertentu). Mereka nggak cuma nunjukin, tapi juga keliling sambil ngasih masukan dan bantuin langsung kalau tangan kita mulai ‘ngeblank’.

Waktu pertama kali aku nyentuh clay itu… wah, sensasinya bikin nagih. Teksturnya lembut tapi padat, dan tiap gerakan tangan kayaknya punya efek langsung. Rasanya satisfying banget, kayak main slime tapi versi dewasa yang lebih meaningful. Bahkan walau bentuk yang aku buat masih absurd, aku tetap bangga karena semuanya dibuat dari nol dan hasil kerja tangan sendiri.

Menciptakan Bentuk: Antara Ekspektasi dan Realita, Aku coba bikin mangkok kecil yang niat awalnya buat jadi tempat cemilan, tapi hasil akhirnya malah mirip asbak penyok yang kena banting. Teksturnya nggak rata, bentuknya pun agak miring ke satu sisi. Tapi justru di situlah letak lucunya—hasilnya unik, personal, dan pastinya punya cerita sendiri. Setiap orang di meja juga punya hasil yang beragam: ada yang bikin karakter lucu mirip hewan peliharaan mereka, ada yang kreatif bikin mini vas bunga, ada juga yang santai aja bentukin clay jadi bola atau hati.

Kami saling pamer hasil, ketawa bareng waktu lihat bentuk-bentuk absurd, bahkan ada yang spontan kasih nama ke hasil karyanya. Nggak ada tekanan, nggak ada standar “bagus atau jelek”—semuanya diterima sebagai bentuk ekspresi yang sah. Instruktur pun ngasih apresiasi satu per satu tanpa membandingkan, bikin tiap peserta merasa dihargai dan makin percaya diri dengan hasil karyanya.

Lebih dari Sekadar Berkarya: Inilah “The Art of Networking” yang Sebenarnya

Ngobrol Lebih Asyik Sambil Tangan Penuh Cat, Aktivitas seni ternyata jadi pemecah es yang luar biasa—dan bukan cuma sekadar istilah. Bayangin, kamu duduk bareng orang asing, awalnya mungkin cuma senyum-senyum kikuk. Tapi begitu kuas mulai menari di atas kanvas dan clay mulai dibentuk, obrolan mulai ngalir tanpa perlu dipaksa. Nggak harus nanya kerja di mana atau tinggal di mana duluan. Cukup komentar kayak, “Warna ungunya cakep deh!” atau “Itu kamu gambar apa ya?” langsung jadi pembuka diskusi yang natural.

Karena semua fokus pada proses kreatif masing-masing, percakapan pun terasa lebih jujur dan nggak kaku. Kadang malah ketawa bareng waktu hasil lukisan kita dibandingin sama karakter kartun random. Ada juga yang saling bantu—entah ngambilin cat, pegangin kuas, atau sekadar ngasih semangat. Interaksi kecil kayak gini justru yang bikin atmosfer jadi hangat dan membentuk koneksi yang nggak terasa dipaksakan.

Bertukar Cerita dan Instagram di Sela-sela Berkarya, Di sela-sela sesi, banyak yang saling follow Instagram dan cerita soal pekerjaan atau hobi. Tanpa sadar, kami udah networking tanpa tekanan. Nggak seperti acara formal yang bikin grogi, di sini semua terasa santai dan genuine.

Apa Saja yang Didapat dengan HTM Rp110.000?

Rincian Fasilitas dan Alat yang Disediakan

Dengan harga segitu, kamu dapet:

  • 1 kanvas + cat akrilik + kuas lengkap
  • Apron & tisu basah
  • Clay (dengan pilihan warna alami dan tambahan tools)
  • Pendampingan instruktur berpengalaman
  • Fasilitas pembakaran clay (jika ingin disimpan tahan lama)

Membawa Pulang Dua Karya Sekaligus!

Yes, hasil karya kamu dari painting dan clay bisa dibawa pulang. Bahkan ada peserta yang langsung pajang hasil lukisannya di Instagram story dan clay-nya dijadikan gantungan kunci.

Relasi Baru dan Pengalaman Tak Terlupakan

Selain karya fisik, kamu juga pulang dengan relasi dan memori seru. Banyak yang bilang mereka nggak nyangka bakal enjoy banget walau awalnya ragu. Buat aku pribadi, ini jadi salah satu weekend terbaik selama bulan itu.

Kesimpulan: Apakah Workshop Seperti Ini “Worth It”?

Jawabannya: IYA, banget! Untuk kamu yang:

  • Lagi cari aktivitas baru yang healing dan fun,
  • Ingin kenalan tanpa tekanan,
  • Atau sekadar pengin quality time bareng pasangan/teman,

Workshop seperti ini adalah pilihan tepat. Nggak perlu skill, cukup datang dengan hati terbuka. Siapa tahu, kamu pulang nggak cuma bawa karya, tapi juga teman baru.

Jadi, siap nyobain “The Art of Networking” selanjutnya? ✨

Penyelenggara Acara: 

Info Penulis: Muhammad Harist Abduh Nazili | Instagram, Linked In

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Index